Ciri – ciri orang ma’rifatullah
1. Tidak meninggalkan syari’at islam, karena sudah benar – benar mengenal
dirinya sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan
2. Tidak hanya menjalankan ibadah wajib, melainkan sangat gemar
mengerjakanyang sunah, meninggalkan yang makruh dan mubah, karena
sangat mencintai Allah
dasarnya hadits qudsi :
” Orang-orang yang mendekatkan diri, tidak merasa dekat denganKU kalau
hanya melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepada mereka, melainkan
mereka juga melaksanakan ibadah ibadah sunah sehingga Aku
mencintainya. Maka jika Aku mencintainya niscaya Aku adalah
pendengarannya yang dengan itu dia mendengar , penglihatannya yang
dengan itu dia melihat, lidahnya yang dengannya dia berkata-kata”.
3. Selalu menjaga wudlunya kebersihan dan kesuciannya dan selalu berdzikir
terus menerus kepada Allah walaupun dalam keadaan tidur
karena orang – orang ini selalu hudlur dihadapan Allah,
berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan orang ma’rifatullah ( beliau
guru ilmu tauhid ) dengan pengikut ribuan orang, beliau pernah berujar
bahwa beliau apabila tidur selalu bermimpi dalam keadaan dzikir ( baik seca
ra berjamaah atau sendiri ) tidak pernah mimpi yang lain.
4. Fana fisifatillah artinya hilanglah segala sifatnya sendiri digantikan dengan
sifat Allah sesuai nama sifat tersebut, misalnya Ash Shabar, maka orang
tersebut sangat penyabar dan tidak pernah marah, Ar Rahmaan, sangat
menyayangi sesama walaupun yang dihadapi preman atau ustad sama saja
ini berdasarkan kitab Jami’ al ushul fi al auliya’, tanpa pernah
mengklaim diriny sabar, welas asih, sudah merdeka dan sebagainya
5. Tidak pernah berbicara sembarangan masalah ma’rifah ( berbicara dengan
melihat kepahaman lawan bicaranya/ ‘ala qadri ukuulihim ) tidak pernah
berbicara berdasarkan pemahaman mereka sendiri, weru tanpo kemeruh,
menehi weruh tanpo nggurui lan ngasorake ( tahu tanpa sok tahu, memberi
tahu / menjelaskan tanpa menggurui dan tanpa merendahkan )
6. mempunyai kelebihan dari Allah ( bukan karomah berdasarkan wirid yang
sengaja diamalkan untuk mendapatkan fadlilah bacaan wirid tersebut ),
biasanya mereka mengetahui bersitan hati, karena apa yang dirasa oleh
mereka adalah suasana hati orang yang dihadapi, bukan rasa mereka,
karena rasa mereka telah lenyap didalam keesaan Allah.
demikian, semua hal tersebut hanya untuk renungan bersama, sudahkah kita berlaku seperti beliau – beliau ini.
Filed under: sehari-hari , sehari-hari








barusan lewat